Desa wisata yang menjaga salah satu hutan pelawan terakhir di Pulau Bangka — rumah bagi madu pahit, jamur langka, dan hamparan sawah yang menghidupi warganya sejak masa Sriwijaya.
Sejak zaman Sriwijaya, kawasan ini menjadi tempat singgah para pelintas dari arah Sungaiselan dan Toboali menuju Pangkalpinang atau Koba. Di persimpangan itu tumbuh sebatang pohon besar bernama kayu Namang, dan di bawahnya tinggal seorang pemuda yang ramah.
Dari sapaan itulah nama desa ini lahir. Kini semangat menjamu yang sama masih terasa — lewat cerita warga tentang hutan pelawan, lewat piring makan bedulang di rumah panggung pinggir sawah, dan lewat kelompok sadar wisata yang menjaga semuanya tetap berjalan sejak desa ini resmi menyandang status desa wisata pada 2008.
Saat kulitnya terkelupas, batang pohon pelawan menampakkan warna merah khasnya. Kayu ini dipakai warga sebagai bahan bangunan, perahu, kayu bakar, hingga tiang rambat lada putih Bangka.
Lebah hutan menghisap serbuk bunga pelawan, menghasilkan madu dengan rasa pahit khas — jadi produk unggulan yang diburu pengunjung, sekaligus obat ala warga setempat.
Tumbuh di akar pohon pelawan saat musim hujan, terkenal mahal — jamur kering musim hujan dihargai sekitar dua juta rupiah per kilogram, bisa naik jauh lebih tinggi di luar musim.
Setelah gelap, hutan berubah panggung bagi satwa nokturnal seperti mentilin (tarsius) — hewan langka yang hanya bisa dijumpai lewat paket penjelajahan malam.
Selain berbunga jadi madu, pucuk daun mudanya bisa diseduh menjadi teh — salah satu produk kecil khas yang lahir dari kearifan mengelola hutan ini.
Dari total 300 hektare, hanya sebagian dibuka untuk wisata. Sisanya tetap berstatus hutan adat, dijaga turun-temurun oleh tokoh masyarakat dan pemuda desa.
Nama ilmiahnya Tristaniopsis merguensis, endemik Pulau Bangka dan Belitung. Keunikannya bukan hanya di batang — dari akar, batang, hingga ujung ranting, hampir seluruh bagian pohon ini berwarna kemerahan begitu kulit luarnya terkelupas.
Pohon ini juga dikenal tangguh: mampu tumbuh subur di lahan minim unsur hara, termasuk di tanah-tanah bekas galian yang sudah rusak — salah satu alasan warga menganggapnya simbol ketahanan hidup.
Selain jadi bahan bangunan, perahu, dan kayu bakar, batangnya dipakai sebagai tiang rambat lada putih Bangka, sementara pucuk daun mudanya diseduh jadi teh dan bunganya menjadi sumber nektar madu hutan.
Jamur ini hanya tumbuh di sekitar akar pohon pelawan, dan Hutan Pelawan Namang tercatat sebagai satu-satunya hutan di Pulau Bangka yang masih jadi rumahnya. Menurut cerita warga, jamur ini "lahir" setiap kali ada sambaran petir di musim hujan.
Rasanya berbeda dari jamur pada umumnya dan kaya protein, sehingga biasa dihidangkan untuk perayaan hari besar, jamuan tamu, atau menu paket makan bedulang. Karena musim tumbuhnya singkat, harganya pun tergolong tinggi.
Jauh sebelum ramai dikunjungi, kawasan ini pernah diincar perusahaan tambang timah. Tokoh masyarakat setempat menolak tegas tawaran itu — pilihan yang membuat hutan pelawan tetap berdiri hingga hari ini.
Berkat pengaturan akses yang ketat, kawasan ini membuktikan pelestarian lingkungan bisa berjalan berdampingan dengan wisata berkelanjutan, tanpa merusak ekosistem aslinya.
Di pinggir hutan pelawan, hamparan sawah masih jadi urat nadi warga Namang — sumber beras merah, sayur, dan lauk yang dihidangkan langsung untuk tamu yang datang. Sejak 2009, hamparan ini juga resmi jadi agrowisata sawah yang bisa dikunjungi.
Kuah kuning segar berbahan ikan air tawar, disantap hangat bersama nasi merah hasil sawah desa.
Olahan jamur langka yang dipetik saat musim hujan, jadi menu istimewa yang hanya bisa dicicipi di desa asalnya.
Cara makan bersama khas Bangka di rumah panggung tepi sawah — lauk disusun dalam dulang dan dinikmati beramai-ramai.
Tanaman lada yang merambat justru dibantu oleh batang pohon pelawan sebagai tiang penopangnya — dua hasil bumi yang tumbuh berdampingan.
Wisata edukasi yang mengajak pengunjung mengikuti proses padi menjadi beras — mulai dari menanam, memanen, hingga menggiling, ditutup tradisi Murok Jerami sehabis panen.
Hanya sekitar 800 meter dari Hutan Pelawan, hamparan bekas tambang timah inkonvensional ini kini berubah jadi lanskap unik menyerupai gurun pasir — lengkap dengan danau-danau kecil di antara bukit tanahnya.
Area ini dulunya lokasi tambang inkonvensional yang ditinggalkan setelah kandungan timahnya habis. Erosi alami perlahan membentuk gundukan tanah liat menyerupai bukit gurun.
Cekungan bekas galian terisi air hujan, membentuk kolam-kolam jernih yang menambah kontras warna di antara pasir dan tanah kecokelatan.
Karena belum dikelola resmi, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk — hanya biaya parkir kendaraan yang dikelola warga sekitar.
Cuaca siang cukup terik karena minim naungan pohon, sehingga banyak wisatawan datang sore hari untuk berburu matahari terbenam dari atas bukit.
Untuk yang ingin bermalam, warga Namang menyediakan homestay sederhana dan bersih — selangkah lebih dekat dengan hutan, sawah, dan keseharian desa.
Salah satu homestay warga yang terdaftar di jejaring desa wisata, berlokasi langsung di kawasan Desa Wisata Namang.
Fasilitas umum yang tersedia di kawasan wisata Desa Namang:
Aktivitas yang dikelola langsung oleh Pokdarwis Pelawan, dari jalan pagi di bawah kanopi hingga makan malam di tepi sawah.
Gunakan form di bawah ini untuk menambahkan berita terbaru atau destinasi wisata baru yang ingin ditampilkan di halaman utama.
Perjalanan darat sekitar 25 kilometer, dan sekitar 30 menit dari arah Kota Koba.
Estimasi waktu tempuh bervariasi tergantung sumber dan kondisi jalan — bagian akhir menuju Hutan Pelawan dan Gurun Pelawan berupa jalan desa dan tanah yang belum semuanya beraspal mulus.
Tiba di Bandara Depati Amir, lanjutkan dengan taksi bandara atau transportasi umum menuju Desa Namang.
Jarak tempuh sekitar 25 km. Dengan transportasi umum, waktu tempuh kira-kira 15–20 menit dengan ongkos sekitar Rp20.000.
Dari gerbang Desa Namang, jarak ke lokasi hutan masih cukup jauh — disarankan menyewa ojek lokal dengan tarif yang bisa dinegosiasikan.
Sesampainya di kawasan wisata, hubungi Pokdarwis Pelawan untuk pemanduan dan pemilihan paket aktivitas.