Desa Namang · Kabupaten Bangka Tengah · Kep. Bangka Belitung

Di bawah naungan
pohon berkulit merah

Desa wisata yang menjaga salah satu hutan pelawan terakhir di Pulau Bangka — rumah bagi madu pahit, jamur langka, dan hamparan sawah yang menghidupi warganya sejak masa Sriwijaya.

300 haLuas Hutan Pelawan
47 haZona Wisata
±60 haHamparan Sawah
2008Jadi Desa Wisata
2023Hutan Pariwisata Award
Asal Usul

Kenapa disebut Namang?

Sejak zaman Sriwijaya, kawasan ini menjadi tempat singgah para pelintas dari arah Sungaiselan dan Toboali menuju Pangkalpinang atau Koba. Di persimpangan itu tumbuh sebatang pohon besar bernama kayu Namang, dan di bawahnya tinggal seorang pemuda yang ramah.

"Na Mang" — ini, silakan pak — begitu ia menyapa setiap orang yang berhenti melepas lelah, sambil menyodorkan air dan makanan seadanya.

Dari sapaan itulah nama desa ini lahir. Kini semangat menjamu yang sama masih terasa — lewat cerita warga tentang hutan pelawan, lewat piring makan bedulang di rumah panggung pinggir sawah, dan lewat kelompok sadar wisata yang menjaga semuanya tetap berjalan sejak desa ini resmi menyandang status desa wisata pada 2008.

Pengelola & Pengakuan
  • Sejak '08 Program desa wisata dijalankan pemerintah Desa Namang, memberdayakan warga lewat potensi hutan dan sawah.
  • Pokdarwis Kelompok Sadar Wisata Pelawan mengelola langsung akses dan atraksi di kawasan hutan.
  • 2023 Meraih Hutan Pariwisata Award di bidang lingkungan atas keberhasilan menjaga kelestarian kawasan.
Jantung Desa

Hutan Pelawan

Salah satu hutan tersisa di Pulau Bangka yang lolos dari penambangan timah — dipertahankan warga karena menyimpan pohon Tristaniopsis merquensis, si batang merah yang langka.
Kulit kayu merah Pelawan

Kulit kayu merah

Saat kulitnya terkelupas, batang pohon pelawan menampakkan warna merah khasnya. Kayu ini dipakai warga sebagai bahan bangunan, perahu, kayu bakar, hingga tiang rambat lada putih Bangka.

Madu pahit pelawan

Madu pahit pelawan

Lebah hutan menghisap serbuk bunga pelawan, menghasilkan madu dengan rasa pahit khas — jadi produk unggulan yang diburu pengunjung, sekaligus obat ala warga setempat.

Jamur pelawan

Jamur pelawan

Tumbuh di akar pohon pelawan saat musim hujan, terkenal mahal — jamur kering musim hujan dihargai sekitar dua juta rupiah per kilogram, bisa naik jauh lebih tinggi di luar musim.

Wisata malam pelawan

Wisata malam

Setelah gelap, hutan berubah panggung bagi satwa nokturnal seperti mentilin (tarsius) — hewan langka yang hanya bisa dijumpai lewat paket penjelajahan malam.

Teh pucuk pelawan

Teh pucuk pelawan

Selain berbunga jadi madu, pucuk daun mudanya bisa diseduh menjadi teh — salah satu produk kecil khas yang lahir dari kearifan mengelola hutan ini.

Hutan adat terjaga

Hutan adat terjaga

Dari total 300 hektare, hanya sebagian dibuka untuk wisata. Sisanya tetap berstatus hutan adat, dijaga turun-temurun oleh tokoh masyarakat dan pemuda desa.

Pohon Pelawan

Mengenal lebih dekat: Pohon Pelawan

Nama ilmiahnya Tristaniopsis merguensis, endemik Pulau Bangka dan Belitung. Keunikannya bukan hanya di batang — dari akar, batang, hingga ujung ranting, hampir seluruh bagian pohon ini berwarna kemerahan begitu kulit luarnya terkelupas.

Pohon ini juga dikenal tangguh: mampu tumbuh subur di lahan minim unsur hara, termasuk di tanah-tanah bekas galian yang sudah rusak — salah satu alasan warga menganggapnya simbol ketahanan hidup.

Selain jadi bahan bangunan, perahu, dan kayu bakar, batangnya dipakai sebagai tiang rambat lada putih Bangka, sementara pucuk daun mudanya diseduh jadi teh dan bunganya menjadi sumber nektar madu hutan.

Jamur Pelawan

Mengenal lebih dekat: Jamur Pelawan

Jamur ini hanya tumbuh di sekitar akar pohon pelawan, dan Hutan Pelawan Namang tercatat sebagai satu-satunya hutan di Pulau Bangka yang masih jadi rumahnya. Menurut cerita warga, jamur ini "lahir" setiap kali ada sambaran petir di musim hujan.

Rasanya berbeda dari jamur pada umumnya dan kaya protein, sehingga biasa dihidangkan untuk perayaan hari besar, jamuan tamu, atau menu paket makan bedulang. Karena musim tumbuhnya singkat, harganya pun tergolong tinggi.

Jamur kering, musim hujan± Rp 2.000.000 / kg
Jamur kering, luar musimhingga Rp 5.000.000 / kg

Ditolak dari tambang, dijaga jadi wisata

Jauh sebelum ramai dikunjungi, kawasan ini pernah diincar perusahaan tambang timah. Tokoh masyarakat setempat menolak tegas tawaran itu — pilihan yang membuat hutan pelawan tetap berdiri hingga hari ini.

Berkat pengaturan akses yang ketat, kawasan ini membuktikan pelestarian lingkungan bisa berjalan berdampingan dengan wisata berkelanjutan, tanpa merusak ekosistem aslinya.

Madu Pelawan
Selain Hutan

Sawah & Meja Makan Desa

Di pinggir hutan pelawan, hamparan sawah masih jadi urat nadi warga Namang — sumber beras merah, sayur, dan lauk yang dihidangkan langsung untuk tamu yang datang. Sejak 2009, hamparan ini juga resmi jadi agrowisata sawah yang bisa dikunjungi.

±53–60 haLuas Sawah Produktif Desa
152 PetaniGapoktan Namang Sebelukar & Poktan Pacir Jaya 2
5,39 Ton/HaProduktivitas Panen Padi
Merah MahadiVarietas Beras Merah Lokal, Selain Inpari & Pandan Wangi
Sawah Pelawan
  • Sajian Utama

    Lempah kuning ikan

    Kuah kuning segar berbahan ikan air tawar, disantap hangat bersama nasi merah hasil sawah desa.

  • Dari Hutan

    Sayur jamur pelawan

    Olahan jamur langka yang dipetik saat musim hujan, jadi menu istimewa yang hanya bisa dicicipi di desa asalnya.

  • Tradisi

    Makan bedulang

    Cara makan bersama khas Bangka di rumah panggung tepi sawah — lauk disusun dalam dulang dan dinikmati beramai-ramai.

  • Hasil Bumi

    Lada putih Bangka

    Tanaman lada yang merambat justru dibantu oleh batang pohon pelawan sebagai tiang penopangnya — dua hasil bumi yang tumbuh berdampingan.

  • Edukasi

    Sawah Pelangi Pelawan

    Wisata edukasi yang mengajak pengunjung mengikuti proses padi menjadi beras — mulai dari menanam, memanen, hingga menggiling, ditutup tradisi Murok Jerami sehabis panen.

Bekas Luka Tambang, Jadi Lanskap Baru

Gurun Pelawan

Hanya sekitar 800 meter dari Hutan Pelawan, hamparan bekas tambang timah inkonvensional ini kini berubah jadi lanskap unik menyerupai gurun pasir — lengkap dengan danau-danau kecil di antara bukit tanahnya.

Gurun Pelawan
  • 01

    Dari tambang ilegal, jadi wisata

    Area ini dulunya lokasi tambang inkonvensional yang ditinggalkan setelah kandungan timahnya habis. Erosi alami perlahan membentuk gundukan tanah liat menyerupai bukit gurun.

  • 02

    Danau-danau kecil di tengah gurun

    Cekungan bekas galian terisi air hujan, membentuk kolam-kolam jernih yang menambah kontras warna di antara pasir dan tanah kecokelatan.

  • 03

    Gratis, hanya bayar parkir

    Karena belum dikelola resmi, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk — hanya biaya parkir kendaraan yang dikelola warga sekitar.

  • 04

    Terbaik menjelang sore

    Cuaca siang cukup terik karena minim naungan pohon, sehingga banyak wisatawan datang sore hari untuk berburu matahari terbenam dari atas bukit.

Belum ada warung di sekitar lokasi — bawa bekal air minum dan camilan sendiri, serta gunakan alas kaki yang nyaman karena akses jalan menuju gurun masih berupa tanah bergelombang.
Menginap di Desa

Homestay & Fasilitas

Untuk yang ingin bermalam, warga Namang menyediakan homestay sederhana dan bersih — selangkah lebih dekat dengan hutan, sawah, dan keseharian desa.

Homestay Pelawan
Contoh Homestay

Homestay Zain

Salah satu homestay warga yang terdaftar di jejaring desa wisata, berlokasi langsung di kawasan Desa Wisata Namang.

  • 2 kamar tidur
  • 2 lemari pakaian
  • Sprei putih polos standar
  • Cermin & meja
  • Kipas angin
  • Jendela sirkulasi udara

Fasilitas umum yang tersedia di kawasan wisata Desa Namang:

Gazebo Hutan Pelawan Saung Sawah Pelangi Balai Pertemuan Camping Ground Spot Foto Homestay Pemandu & Penjaga Hutan Musholla Toilet Area Parkir Kafetaria Kios Suvenir Wifi Area
Rencanakan Kunjungan

Paket Wisata

Aktivitas yang dikelola langsung oleh Pokdarwis Pelawan, dari jalan pagi di bawah kanopi hingga makan malam di tepi sawah.

Jelajah Hutan Pelawan Siang

Jelajah Hutan Pelawan

Susur jalur di zona wisata seluas 47 hektare, melihat langsung batang merah pohon pelawan dan sarang lebah liar di antara akarnya.

Safari Satwa Nokturnal Malam

Safari Satwa Nokturnal

Berburu penampakan mentilin dan satwa malam lain yang hanya keluar setelah matahari terbenam, ditemani pemandu Pokdarwis setempat.

Madu & Jamur Pelawan Cicip Rasa

Madu & Jamur Pelawan

Coba langsung madu pahit dari sarang lebah hutan serta olahan jamur pelawan musiman — sekaligus belajar cerita di balik harganya yang tinggi.

Makan Dulang di Sawah Kuliner

Makan Dulang di Sawah

Duduk lesehan di rumah panggung tepi sawah, menyantap lempah kuning dan nasi merah bersama warga, ditutup cerita asal-usul Desa Namang.

Berburu Senja di Gurun Pelawan Sore

Berburu Senja di Gurun Pelawan

Lanjutkan perjalanan sekitar 800 meter dari Hutan Pelawan untuk melihat lanskap bekas tambang timah yang berubah jadi bukit pasir dan danau kecil, favorit untuk foto menjelang senja.

Bermalam di Homestay Warga Menginap

Bermalam di Homestay Warga

Tutup kunjungan dengan menginap di homestay milik warga, merasakan langsung keseharian Desa Namang sebelum melanjutkan perjalanan esok hari.

Berita Terbaru

Destinasi Wisata

Menu Admin

Kelola berita & destinasi wisata

Gunakan form di bawah ini untuk menambahkan berita terbaru atau destinasi wisata baru yang ingin ditampilkan di halaman utama.

Login Admin

Tambah Berita

Tambah Destinasi Wisata

Berita Terbaru

Destinasi Wisata

Cara Menuju Lokasi

Akses dari Bandara Depati Amir

Perjalanan darat sekitar 25 kilometer, dan sekitar 30 menit dari arah Kota Koba.

Bandara Depati Amir 0 KM Desa Namang ± 25 KM · 15–20 MENIT ≈ 25 KM Hutan Pelawan ± 30 MENIT DARI BANDARA setempat Gurun Pelawan ± 800 M DARI HUTAN · ± 50 MENIT DARI BANDARA

Estimasi waktu tempuh bervariasi tergantung sumber dan kondisi jalan — bagian akhir menuju Hutan Pelawan dan Gurun Pelawan berupa jalan desa dan tanah yang belum semuanya beraspal mulus.

Langkah 1

Tiba di Bandara Depati Amir, lanjutkan dengan taksi bandara atau transportasi umum menuju Desa Namang.

Mulai perjalanan dari bandara, lalu pilih transportasi yang paling cepat dan nyaman menuju desa wisata.
Langkah 2

Jarak tempuh sekitar 25 km. Dengan transportasi umum, waktu tempuh kira-kira 15–20 menit dengan ongkos sekitar Rp20.000.

Perjalanan desa terasa lebih santai, dengan pemandangan jalan kota dan desa yang makin ramai saat memasuki wilayah Namang.
Langkah 3

Dari gerbang Desa Namang, jarak ke lokasi hutan masih cukup jauh — disarankan menyewa ojek lokal dengan tarif yang bisa dinegosiasikan.

Ojek lokal sering paling praktis karena jalan terakhir menuju lokasi wisata masih berupa akses desa dan tanah.
Langkah 4

Sesampainya di kawasan wisata, hubungi Pokdarwis Pelawan untuk pemanduan dan pemilihan paket aktivitas.

Saat sudah tiba, pemandu lokal siap membantu memilih jalur, jadwal, dan aktivitas yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.